WIZ.or.id, Parigi Moutong – Di sebuah rumah sederhana di Desa Baliara, Kecamatan Parigi Barat, hidup seorang lelaki tua bernama Udin (75). Dahulu, ia mencari nafkah sebagai tukang ojek. Dengan sepeda motornya yang telah renta seperti dirinya, ia berjuang menjemput rezeki dari satu tempat ke tempat lainnya.
Namun seiring usia yang terus menua, tenaga pun semakin melemah. Ia tak lagi mampu mengayuh hidup seperti dulu. Sejak saat itu, hidupnya hanya ditopang dari belas kasih para tetangga yang masih peduli.
Beberapa pekan terakhir, kondisi Kakek Udin semakin memburuk. Ia jatuh sakit. Tubuhnya lemah. Ia tak sanggup lagi mengurus makan dan kebutuhannya sendiri. Tak ada keluarga yang menemaninya. Ia benar-benar hidup sebatangkara, dengan sisa-sisa ketabahan dan kesabaran.
Mendengar kondisi ini, Syafrin, relawan LAZNAS Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) Cabang Parigi, segera turun tangan. Setiap hari, ia membawa makanan siap saji untuk Kakek Udin, memastikan beliau tetap bisa menyantap makanan meski tubuhnya tak lagi kuat bergerak.
Namun, takdir berkata lain. Pada Jumat pagi, 27 Juni 2025, Kakek Udin menghembuskan napas terakhirnya dalam kesunyian. Tak ada sanak saudara yang bisa mengurus jenazahnya.
WIZ Parigi pun kembali hadir, bukan hanya dalam program sosial biasa, tetapi dalam misi kemanusiaan paling mulia, mengurus pemakaman seorang Muslim dhuafa yang wafat sendiri.
Tim relawan WIZ memandikan jenazahnya, mengkafani, hingga mengantarkannya ke liang lahat. Perlengkapan jenazah, mulai dari kain kafan hingga kebutuhan pemakaman, semua disiapkan oleh WIZ.
Suasana duka mengiringi pemakaman yang dihadiri warga sekitar. Dalam kesempatan itu, Ustadz Muslimin, Da’i Wahdah Islamiyah Parigi Moutong, memberikan tausiah singkat di rumah duka. Beliau mengingatkan warga akan pentingnya menyiapkan bekal akhirat dan tips untuk meraih surga Allah. “Tak ada bekal terbaik selain amal saleh dan kepedulian terhadap sesama,” ucapnya.
Turut hadir dalam prosesi tersebut, Kepala Desa Baliara, Bapak Fadli Badja, yang menyampaikan apresiasinya kepada LAZNAS WIZ. “Kami sangat berterima kasih. LAZNAS WIZ bukan hanya membantu dalam kondisi sakit, tetapi juga hadir mengurus jenazah warga kami yang tak memiliki siapa-siapa. Ini bentuk kepedulian yang luar biasa,” tuturnya.
Kisah Kakek Udin mengingatkan kita semua bahwa kepedulian bukan hanya soal memberi saat seseorang hidup, tapi juga menemani mereka hingga langkah terakhir menuju keabadian.
Semoga Allah menerima amal-amal kebaikan ini sebagai pemberat timbangan kebaikan di hari akhir. []
