“Jangan malu belajar Al-Qur’an, insyaa Allah akan menjadi bekal kita kelak.”
Pesan penuh makna itu disampaikan Sabarudin, warga asal Desa Sidoan, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong, yang merasakan perubahan berarti dalam hidupnya setelah mengikuti program pembinaan baca Al-Qur’an dengan metode DIROSA di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Parigi.
Di balik masa pembinaan yang harus dijalaninya atas kekhilafan di masa lalu, Sabarudin menemukan kesempatan berharga untuk memperbaiki diri. Ia mendapatkan pembinaan keagamaan yang membantunya mendekat kepada Al-Qur’an, sesuatu yang kini ia syukuri sebagai bekal berharga untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Sabarudin sebelumnya dijadwalkan menjalani masa pembinaan selama tiga tahun. Namun, berkat ketekunan dan proses yang dijalaninya, setelah sekitar satu tahun lebih menjalani masa pembinaan, ia mendapatkan kabar bahwa dirinya akan segera menyelesaikan masa pembinaan di Lapas Parigi.
Salah satu pengalaman paling berkesan selama berada di dalam lapas adalah kesempatan belajar membaca Al-Qur’an melalui metode DIROSA, sebuah metode pembelajaran baca Al-Qur’an yang diperuntukkan bagi kalangan dewasa.
Sebelum mengikuti program tersebut, Sabarudin mengaku belum lancar membaca Al-Qur’an. Namun, melalui proses belajar secara bertahap, ia mulai merasakan perubahan. Bacaan yang sebelumnya terasa sulit kini semakin lancar, sehingga tumbuh pula semangatnya untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Baginya, pembinaan ini bukan sekadar kesempatan untuk belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi pengalaman berharga yang memberikan harapan baru dalam perjalanan hidupnya.
Sabarudin pun menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak Lapas Kelas III Parigi serta para ustaz dari Lembaga Amil Zakat Nasional Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) yang telah memberikan pendampingan pembelajaran Al-Qur’an melalui metode DIROSA.
Ungkapan tersebut disampaikannya saat menerima kunjungan Jamorianto, Ketua WIZ Cabang Parigi, di Lapas Kelas III Parigi pada Rabu (23/9/2026).
“Jangan malu belajar membaca Al-Qur’an. Di WIZ ada metode DIROSA yang menarik dan mudah dipahami. Insyaa Allah, ilmu ini akan menjadi bekal kita kelak,” pesannya.
Pada kesempatan tersebut, Jamorianto menyerahkan satu buah mushaf Al-Qur’an kepada Sabarudin sebagai buah tangan yang dapat dibawanya pulang setelah menyelesaikan masa pembinaan. Pemberian tersebut diharapkan menjadi pengingat sekaligus penyemangat agar Sabarudin senantiasa dekat dengan Al-Qur’an dalam menjalani kehidupan selanjutnya.
Jamorianto juga berharap agar ilmu yang telah dipelajari Sabarudin tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia berharap Sabarudin dapat terus menjaga kemampuan membaca Al-Qur’an, mengamalkan nilai-nilainya, serta membagikan ilmu yang diperolehnya kepada keluarga dan masyarakat di kampung halaman.
Kisah Sabarudin menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, berubah, dan memperbaiki diri. Masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan seseorang. Selama masih ada kemauan untuk belajar dan kesempatan untuk berbenah, selalu ada harapan untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Melalui program pembinaan DIROSA, WIZ berharap semakin banyak orang dewasa yang memperoleh kesempatan belajar membaca Al-Qur’an, termasuk mereka yang selama ini merasa malu atau menganggap dirinya sudah terlambat untuk belajar.
Sebab, tidak ada kata terlambat untuk belajar Al-Qur’an. Setiap huruf yang dipelajari adalah bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah dan menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
